Senin, 06 Agustus 2012

KONTRIBUSI PANJANG LENGAN, KEKUATAN TUNGKAI DAN KEKUATAN OTOT PERUT TERHADAP KECEPATAN RENANG GAYA KUPU-KUPU PADA ATLET RENANG KOTA MAKASSAR

SKRIPSI



KIKI PUSPITA SARI




FAKULTAS ILMU KEOLAHRAGAAN
UNIVERSITAS NEGERI MAKASSAR
2012


BAB I
PENDAHULUAN

A.   Latar Belakang Masalah

Olahraga merupakan aktivitas fisik yang dapat membantu mengoptimalkan perkembangan tubuh melalui gerakan-gerakan yang didasari dengan gerak otot.Karakteristik olahraga secara langsung berkaitan dengan ciri-ciri perilaku manusia dan dengan berbagai macam kegiatan di masyarakat.Premis yang telah berkembang menyebutkan bahwa inti dari kegiatan olahraga adalah bermain, dengan keadaan itu pula manusia memperagakan keterampilannya dalam melakukan suatu gerakan.Salah satu tujuan berolahraga yaitu untuk meningkatkan kesegaran jasmani.Dewasa ini kesadaran masyarakat untuk melakukan olahraga semakin tinggi, salah satunya cabang olahraga renang.Renang sangat penting bagi setiap individu karna dapat menyelamatkan diri sendiri ketika berada di air.
Renang adalah olahraga yang menyehatkan, sebab hampir semua otot tubuh bergerak sehinga seluruh otot berkembang dengan pesat dan kekuatan perenang bertambah meningkat. Renang sebagaimana kita ketahui merupakan salah satu cabang olahraga yang selalu di pertandingkan diarena pertandingan antar bangsa seperti Olympic, Asian games, Pan American Games, juga dalam arena pertandingan olahraga yang diselenggarakan di Indonesia, kejuaraan Nasional Renang atau bahkan dalam pertandingan olahraga yang di selenggarakan di Makassar seperti Porda, kejurda dan lain sebagainya .
Mengingat masalah prestasi renang di kota Makassar menjadi sebuah masalah yang sangat besar dalam perkembangan olahraga, maka perlu di ikuti dalam perkembangan ilmu pengetahuan dan tekhnologi agar prestasi yang di capai lebih baik dari sebelumnya. Berkaitan dengan itu, cabang olahraga renang sebagai cabang olahraga pendidikan dan prestasi maka perlu di tingkatkan bentuk-bentuk latihan menuju prestasi yang optimal. Cabang olahraga renang terdiri dari empat gaya yaitu Dada, Kupu-kupu, Bebas, dan Punggung. Dari ke empat gaya tersebut gaya kupu-kupu adalah gaya yang paling indah karna gerakan kakinya seperti dolpin.
Dalam kaidah ilmu kepelatihan komponen fisik yang sangat di perlukan untuk dapat berprestasi pada cabang olahraga renang yaitu komponen kondisi fisik. Komponen fisik yang akan di kembangkan dalam usaha mencapai prestasi yang optimal salah satu di antaranya ialah, kekuatan otot.selain itu di tunjang dengan pendekatan latihan fisik secara teratur, sistematis terprogram dan berkesinambungan. penunjang lain yang sangat mendukung prestasi yang diinginkan ialah teknik dan mental sehinga menjadi satu rangkaian pendukung prestasi olahraga ialah pendekatan latihan fisik sesuai dengan karakteristik olahraganya, ketepatan teknik dan mental.
Dalam olahraga renang gaya kupu-kupu dimana daya dorong maju pada olahraga tersebut dominan berada pada kondisi fisik yang berkaitan dengan ukuran panjang lengan, kekuatan tungkai, dan kekuatan otot perut.dimana lengan berfungsi sebagai pendayung sehingga semakin panjang lengan keseluruhan seseorang akan semakin jauh jangkauannya pada saat melakukan recovery sehingga semakin pendek waktu yang di tempuh untuk jarak tertentu,begitu pula dengan kekuatan tungkaimempengaruhi jauhnya daya dorong pada saat melakukan dholpin dan kekuatan otot perut dihasilkan oleh kontraksi otot yang menggunakan tenaga internal untuk membantu mengatur gerakan tungkai pada saat melakukan dolphin.Pada gaya kupu-kupu ini faktor yang paling mendasar adalah faktor kekuatan, bahwa kekuatan adalah dasar untuk penampilan gerak karena hampir semua dalam penampilan gerak yang giat bersemangat tergantung pada kemampuan dalam menerapkan besarnya force melawan resistance, peningkatan kekuatan sering memberi kontribusi terhadap prestasi performance gerak menjadi lebih baik, dengan ini jelas bahwa kekuatan mempunyai hubungan dengan performance renang gaya kupu-kupu.

Berdasarkan dari uraian-uraian tersebut, maka penulis memprediksikan bahwa komponen kondisi fisik seperti panjang lengan,kekuatan tungkai dan kekuatan otot perut sangat menentukan tingkat keberhasilan atlet renang kota makassar di nomor kupu-kupu.dari prediksi tersebut peneliti tertarik untuk mengadakan penelitian dengan judul “Kontribusi Panjang Lengan, Kekuatan Tungkai Dan Kekuatan Otot Perut Terhadap Kecepatan Renang Gaya Kupu-Kupu Atlet Renang Kota Makassar”.

B.   Rumusan masalah

Berdasarkan latar belakang masalah yang telah dikemukakan, maka permasalahan yang akan dibahas dalam penelitian ini sebagai berikut:
1.    Berapa besarkontribusiPanjang lenganterhadap kecepatan renang gaya kupu-kupupada atlet renang kota Makassar?
2.    Berapa besar kontribusi kekuatan tungkai terhadap kecepatan renang gaya kupu-kupupada atlet renang kota Makassar?
3.    Berapa besar kontribusi kekuatan otot perut terhadap kecepatan renang gaya kupu-kupupada atlet renang kota Makassar?
4.    Berapa besar kontribusi panjang lengan, kekuatan tungkai, dan kekuatan otot perut terhadap kecepatan renang gaya kupu-kupupada atlet renang kota Makassar?

C.   Tujuan Penelitian
Tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian ini sesuai dari permasalahan yang di angkat adalah:
1.    Untuk memberikan informasi dan pengetahuan tentang berapa besar kontribusiPanjang lengan, terhadap kecepatan renang gaya kupu-kupu.
2.    Untuk memberikan informasi dan pengetahuan tentang Berapa besar kontribusi kekuatan tungkai terhadap kecepatan renang gaya kupu-kupu.
3.    Untuk memberikan informasi dan pengetahuan tentang Berapa besar kontribusi kekuatan otot perut terhadap kecepatan renang gaya kupu-kupu.
4.    Untuk memberikan informasi dan pengetahuan tentang Berapa besar kontribusi secara bersama-sama antarapanjang lengan, kekuatan tungkai, dan kekuatan otot perut terhadap kecepatan renang gaya kupu-kupu.

D.   Manfaat Hasil Penelitian

Dengan Penelitian ini dapat memberikan informasi kepada dosen atau pembaca tentang kontribusi panjang lengan, kekuatan tungkai dan kekuatan otot perut terhadap kemampuan renang gaya kupu-kupu, maka penulis berharap agar:
1.    Dapat memberikan sumbangan yang berarti kepada para pembaca khususnya kepada para pelatih dan guru penjas mengenai renang gaya kupu-kupu.
2.    Dapat memberikan informasi kepada para pelatih dalam memberikan  program latihan yang sesuai dan efisien.
3.    Berguna bagi usaha  penelitian yang lebih luas dalam rangka pengembangan prestasi khususnya prestasi renang agar dapat diketahui berbagai struktur tubuh yang dapat menunjang kemampuan renang gaya kupu-kupu.
4.    Menambah ilmu pengetahuan dalam perkembangan renang pada
penulis khususnya.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA, KERANGKA BERPIKIR
DAN HIPOTESIS

A.   Tinjauan pustaka
 Merupakan kerangka acuan atau sebagai landasan teori dalam melakukan suatu penelitian. Teori-teori yang dikemukakan merupakan pernyataan dasar yang di harapkan dapat menunjang penyusunan kerangka berfikir yang nantinya menjadi acuan dalam merumuskan hipotesis sebagai jawaban sementara terhadap masalah dalam penelitian ini. Dengan demikian hal-hal yang akan dikemukakan dalam tinjauan pustaka tersebut adalah sebagai berikut:
1.    Renang Gaya Kupu-kupu
Dalam membicarakan gaya kupu-kupu, Nadwi Syam membagi menjadi 5 (lima) bagian, yang terdiri dari:
1)    Posisi Badan
2)    Gerakan Kaki
3)    Gerakan Lengan
4)    Pernapasan
5)    Koordinasi Gerakan
a.     Posisi Badan
Dalam setiap renangan kita harus ingat bahwa posisi badan harus di usahakan sedatar mungkin dengan permukaan air.pada gaya kupu-kupu terjadi gerakan dari tubuh yang naik turun secara vertikal sesuai dengan irama gerakan dari kaki dan pukulan dolphin. Gerakan tubuh yang naik turun ini tidak di jumpai pada gaya renang yang lain. Dengan gerakan naik turun dalam renang tersebut maka tahanan depan akan bertambah,sehingga untuk membentuk posisi badan yang datar seperti pada gaya bebas dan gaya punggung tidak mungkin.Namun demikian haruslah dijaga agar tahanan depan yang dihasilkan gaya kupu-kupu ini sekecil mungkin,dengan usaha agar posisi badan sedatar mungkin.
Ada 2 hal yang perlu diperhatikan pada gaya kupu-kupu yang dapat menghasilkan posisi badan yang streamline.
1)    Pada waktu bernafas kepala di usahakan naik serendah mungkin asalkan mulut telah keluar dari permukaan air dan cukup untuk mengambil nafas. Secepatnya setelah pengambilan nafas selesai,kepala tunduk kembali untuk menjaga posisi badan yang streamline.
2)    Gerakan menendang dari kedua kaki yang merupakan pukulan kaki ikan dolphin,haruslah di usahakan tidak terlalu dalam sebab pukulan yang terlalu dalam hanya akan menambah tahanan  depan saja. Tendangan kedua kaki dilakukan dengan cara menekuk kedua kaki pada persendian lutut untuk kemudian diluruskan lagi dengan keras. Menekuknya kedua kaki haruslah diusahakan sedikit saja jangan terlalu dalam. Bila bengkokan sendi lutut terlalu dalam,maka tendangan kaki tersebut tidak terlalu efisien dan tahanan depan akan besar dengan demikian akan menghasilkan sikap badan yang tidak streamline.
b.     Gerakan Kaki
Tendangan kaki gaya kupu-kupu sebenarnya hampir sama dengan gerakan kaki pada gaya bebas,yaitu bergerak naik turun secara vertikal. Bedanya yaitu pada gaya kupu-kupu tendangan kaki naik turun tersebut dilakukan secara bersama-sama (serentak) dan semetris antara kaki kanan dan kaki kiri,sedang tendangan kaki pada gaya bebas dilakukan dengan naik turun secara bergantian antara kaki kanan dengan kaki kiri.
Tendangan kaki pada gaya kupu-kupu dimulai pada pangkal paha dengan cara menekuk kaki pada persendian lutut,penekukan kaki dilakukan kecil saja sehingga telapak kaki tidak keluar pada permukaan air. Tetapi hanya sebagian dari telapak kaki yaitu jari-jari kaki saja yang keluar dari permukaan air.penekukan kaki atau gerakan kaki keatas dilakukan dengan rileks dan pelan sedangkan gerakan kaki kebawah atau meluruskan kaki dengan kekuatan yang besar,dimana punggung kakimenendang dengan keras kearah bawah.
Pada waktu kaki bergerak ke atas telapak kaki dari keadaan bertekuk berubah kekeadaan lurus,sedangkan pada waktu tendangan ke bawah yang keras,telapak kaki dari keadaan lurus berubah menjadi keadaan bertekuk. Gerakan telapak kaki menekuk ini merupakan dorongan yang besar, tendangan kaki ke bawah yang keras ini akan mengakibatkan bagian badan terutama pantat bergerak ke atas,sedangkan pada waktu kaki bergerak ke atas,maka bagian badan terutama pantat akan bergerak turun. Pada satu kali putaran lengan tendangan kaki pada gaya kupu-kupu ini dilakukan dua kali,kedua tendangan tersebut tidaklah sama,melainkan sedikit berbeda.
Perbedaan tersebut terletak pada keras atau dalamnya tendangan kaki. Pada tendangan yang pertama dilakukan dengan kuat dan dalam, sehingga mengakibatkan pantat naik cukup tinggi sedangkan tendangan kaki yang kedua pelan dan tidak dalam. Fungsi dari tendangan kaki yang kedua adalah untuk menormalkan gerakan pertama yang keras tadi sehingga pantat tidak meloncat tinggi ke atas,hal ini akan sangat mengurangi tahanan depan.
Urutan gerakan kaki pada gaya kupu-kupu
1)    Kaki dalam keadaan lurus sampai dengan telapak kaki.
2)    Gerakan kaki keatas dilakukan dengan cara kaki membengkokkan kaki pada persendian lutut (articulatio genu). Bengkoknya kaki ini tidak terlalu besar sehingga hanya sebagian jari-jari kaki saja  yang keluar dari permukaan air.
3)    Tendangan kedua kaki kearah bawah dilakukan dengan keras terutama punggung kaki. Tendangan ini dengan cara meluruskan kedua kaki dari sikap membengkok.
4)    Tendangan kaki ini masih berjalan, terlihat sikap kaki yang lurus dari sikap bengkok.
5)    Setelah tendangan kaki ke bawah berakhir,maka kaki di gerakkan ke atas dari sikap kaki yang lurus untuk kemudian di tekuk pada persendian lutut.
Sedangkan Menurut Soejoko ( 1992:49-50 ) Gerakan kaki terdiri dari:
1)    Irama gerakan kaki yang terdiri dari:
a)  Naik turun mengarah lurus.
b)  Naik turun dengan 6 pukulan kaki (the six beat kick), dengan kedalaman kaki di bawah permukaan air ketika naik turun dari atas permukaan air berkisar 25 – 30 cm.
c)  Naik turun dengan 4 pukulan kaki (the four beat kick atau broken tempo kick).
d)  Naik turun dengan 2 pukulan kaki (the two beat kick) .
e)  Naik turun dengan 2 pukulan kaki menyilang (the two beat crossover kick)
2)    Pada fase istirahat (disaat lutut membengkok, membentuk sudut untuk memukul dan melecut) mempunyai sudut berkisar antara 30° - 40°.
3)    Kedalaman paha ketika melakukan gerakan ke bawah atau saat memukul atau melecut adalah 25 – 30 cm dari permukaan air.
4)    Kedalaman tungkai kaki bagian bawah atau telapak kaki dari permukaan air ketika melakukan pukulan dan lecutan sekitar 30-35 cm.

c.         Gerakan Lengan

Pada gaya kupu-kupu kedua lengan haruslah di gerakkan secara serentak dan sometris antara lengan kiri dan lengan kanan.
Gerakan lengan pada gaya kupu-kupu terbagi atas 2 (dua)bagian yaitu:
1.    Gerakan Recovery
2.    Gerakan Mendayung
1)    Gerakan Recovery
Gerakan Recovery lengan adalah gerakan lengan pada saat akhir dayungan sampai dengan pada saat permulaan dayungan.Gerakan recovery ini sebagai berikut:
Setelah kedua tangan keluar dari air tangan mulai dilemparkan ke depan pada posisi yang rendah dalam bentuk parabola yang datar.Gerakan ini dilakukan dengan rileks.Kedua tangan masuk kedalam air pada titik sedikit diluar garis bahu.Gerakan recovery lengan ini dilakukan secara serempak dan simetris antara lengan kiri dan lengan kanan.

2)    Dayungan Lengan
Gerakan menarik (pull) dan gerakan mendorong (push).Setelah tangan masuk kedalam air, Maka mulailah dengan lengan kea rah lurus kemudian gerakan berubah arah dengan memutar ke arah dalam.Pada saat berputar kedalam lengan di tekuk ±135º pada sudut siku.Gerakan kedalam ini masih dalam gerakan tarikan.Gerakan selanjutnya tangan berubah arah yaitu memutar keluar.Gerakan lengan memutar keluar ini merupakan gerakan dorongan dari lengan. Akhir dari dorongan apabila kita perhatikan gerakan dari telapak tangan  gaya kupu-kupu pada saat mendayung adalah sebagai berikut:
Setelah telapak tangan masuk kedalam air mulailah gerakan kearah luar kemudian kedalam dan selanjutnya keluar lagi sampai selesai gerakan mendayung. Kedua telapak tangan akan membuat gerakan seperti bentuk lubang kunci (key hole). Selama dayungan telapak tangan  menyesuaikan dengan gerakannya, pada gerakan keluar telapak tangan menghadap keluar,pada saat  putaran kedalam telapak tangan yang menghadap keluar menjadi menghadap kedalam dan pada gerakan memutar keluar maka telapak tangan memutar dari menghadap kedalam menjadi menghadap keluar. Kecepatan gerakan dari arah pelan keaarah keras.sehingga pada saat dorongan  harus dilakukan sekeras-kerasnya. Bila kita perhatikan gerakan lengan darigaya kupu-kupu sebenarnya hampir sama dengan gerakan lengan pada gaya bebas baik pada gerakan recovery maupun pada gerakan mendayung. Bedanya pada gaya kupu-kupu dilakukan secara serempak dan simetris antara lengan kanan dan lengan kiri sedangkan gaya bebas gerakan lengan dilakukan secara bergantian antara lengan kanan dan lengan kiri.
Urutan gerakan lengan pada gaya kupu-kupu
1.    Lengan pada saat akhir dayungan untuk persiapan recovery.
2.    Lengan pada saat pelaksanaan recovery dengan melemparkan lengan kearah samping permukaan air.
3.    Lengan pada kahir recovery dimana kedua tangan masuk ke dalam air di depan kepala pada garis bahu.
4.    Kedua lengan masuk kedalam air dengan sikap tunduk.
5.    Kedua lengan mulai melakukan tarikan kearah luar
6.    Kedua lengan mulai bergerak kea rah dalam masih dalam tarikan menekuk lengan pada persendian siku.
7.    Kedua lengan mulai dengan dorongan kearah dalam.
8.    Kedua lengan pada akhir dayungan,dimana kedua ibu jari menyentuh paha.
d.        Pernapasan
Pernapasan pada gaya kupu-kupu dilakukan dengan mengangkat kepala kedepan seperti pada gaya dada. Pengangkatan kepala di lakukan pada saat akhir dari tarikan dan memulai dari dorongan lengan,naiknya kepala dari permukaan  air diusahakan sedikit mungkin asal mulut telah keluar dari permukaan air dan dapat melaksanakan pernapasan.pengambilan napas dilakukan dengan cepat,dengan cara menarik napas lewat mulut secara meledak(cepat),secepatnya setelah mengambil napas kepala segera diturunkan lagi untuk menghindari bertambahnya tahanan depan. Pengeluaran udara dilakukan dalam air di saat kepala akan keluar dari permukaan air. Pengeluaran udara dilakukan lewat hidung secara meledak(cepat).

e.      Koordinasi gerakan
Pada gaya kupu-kupu harus ada persesuain gerakan antara gerakan lengan dan gerakan kaki. Persesuaian tersebut terutama dalam hubungan sikap badan yang naik turun secara vertikal lengan,meliuk-liuk seperti halnya ikan dolphin yang sedang berenang.Pada satu kali putaran lengan terjadi putaran kaki dua kali, keras dan lemah.Pada saat permulaan tarikan dilakukan tendangan kaki yang pertama (keras) pada saat dorongan lengan dilakukan tendangan kaki yang kedua (lemah).

2.    Panjang lengan          

Sebagai sesuatu yang Nampak konkrit, tubuh manusia mempunyai bentuk dan susunan tertentu.Susunan yang terdiri dari kerangka tulang dan otot yang terbungkus kulit itulah yang dimaksud sebagai struktur tubuh. Sejalan dengan itu Anwar pasau (1993:42) mengatakan bahwa:”struktur tubuh adalah unsur-unsur atau bagian-bagian tubuh manusia”.
Struktur tubuh memegang peranan penting dalam melakukan aktivitas olahraga dan menunjang keterampilan gerak seseorang. Hal tersebut sejalan pendapat H.clarke (1997:11) yang mengatakan bahwa :” the type of individual’s structure is an essensial factor in his motor performance”. Kalimat ini mengandung arti :bentuk struktur tubuh seseorang adalah suatu factor yang sangat mendasar bagi pelaksana geraknya.

Pengukuran mengenai struktur tubuh dikenal dengan istilah antropometrik.Antropometrik merupakan bentuk pengukuran struktur tubuh yang tertua di pergunakan, dari beberapa pengukuran-pengukuran tersebut yang menjadi focus dalam penelitian ini adalah panjang lengan, dimana Dalam renang diperlukan lengan yang panjang yang keseluruhannya  berfungsi sebagai pendayung. Untuk mendorong maju dibutuhkan gerakan mendayung dengan gerakan memutar seakan-akan melewati tabung atau tabung imajinasi (Thomas, 2000 : 16 ). Dengan demikian semakin panjang lengan keseluruhan seseorang akan semakin jauh jangkauannya. Semakin jauh jangkauannya, bila diasumsikan kekuatan dan kecepatannya sama, maka akan semakin pendek waktu yangditempuh untuk jarak tertentu.
Dengan  demikian  dapat  disimpulkan  bahwa panjang atau pendeknya lengan keseluruhan berpengaruh terhadap kecepatan renangnya.


3.    Kekuatan Tungkai

Kekuatan adalah energi untuk melawan suatu tahanan atau kemampuan untuk membangkitkan tegangan (tension) terhadap suatu tahanan (resistance) ini menurut Harsono dalam bukunya , coaching dan aspek psikologi dalam coaching.
Sedangkan menurut Sugianto (1994: 226), kekuatan adalah unsur kemampuan fisik yang menjadikan seseorang mampu menahan beban atau tahanan dengan menggunakan kontraksi otot. Kekuatan otot di tentukan oleh besarnya penampang otot serta kualitas kontrol pada otot yang bersangkutan.

Kekuatan(strenght) di sebut pula sebagai komponen fisik seseorang tentang kemampuannya dalam mempergunakan otot untuk menerima beban sewaktu bekerja. Jadi kekuatan otot merupakan komponen yang sangat penting guna meningkatkan kondisi fisik secara keseluruhan.
Tungkai adalah anggota badan bawah mencakup tungkai dan panggul serta sendi-sendi dan otot-ototnya. Tungkai di bentuk oleh tulang atas atau paha (os femoris/femur), sedangkan tungkai bawah terdiri dari tulang kering (os Tibia) dan betis serta tulang kaki, sedangkan gelang panggul dibentuk oleh coksea dengan tulang sacrum, terdapat dua persendian pada gelang panggul, yaitu : sendi usus kelangka dan sendi sela kemaluan, gelang panggul mempunyai hubungan yang kokoh dengan batang badan sesuai dengan faalnya sebagai alat yang harus menerima berat badan dan meneruskannya pada kedua tungkai hanya dalam penelitian ini tungkai harus mempunyai kekuatan yang baik agar dapat mempertahankan diri. Tungkai sama denga kaki mulai dari pangkal paha ke bawah sampai dengan telapak kaki, merupakan anggota gerak bagian bawah yaitu seluruh kaki di tambah dengan panggul.
Lutut adalah persendian terbesar dari tubuh manusia dan meskipun relatif kuat, biasanya mudah kena cedera karena susunan fisik yang kompleks dari lutut karena sering kali mengalami tekanan yang berlebihan selama melakukan aktifitas fisik seperti olahraga renang. Saat melakukan gerakan kaki pada gaya kupu-kupu sangat berpengaruh dengan kekuatan tungkai karena dapat mempercepat laju renang kedepan. Dimana ujung proksimal dari tibia membentuk permukaan persendian yang agak cembung. Dua condylus femur yang besar dikelilingi oleh susunan ligamenta dan otot yang kuat untuk membantu tulang-tulang menyerap kekuatan yang ada ketika melakukan pukulan kaki pada gaya kupu-kupu.
Kekuatan otot tungkai adalah komponen kondisi fisik seseorang tentang kemampuannya dalam mempergunakan otot untuk menerima beban sewaktu bekerja (M.Sajoto,1995:8). Jadi kekuatan otot tungkai adalah kemampuan otot-otot tungkai untuk menahan beban sewaktu bekerja.

4.    Kekuatan otot perut

Kekuatan (strength) adalah komponen kondisi fisik seseorang tentang kemampuannya dalam menggunakan otot dalam menerima beban sewaktu bekerja.
(Depdikbud,1997:5) Menurut M. satojo(1995:8), berpendapat bahwa kekuatan adalah komponen kondisi fisik seseorang tentang kemampuannya dalam mempergunakan otot untuk menerima beban sewaktu bekerja. Dalam penelitian ini yang di maksud kekuatan otot perut adalah gerakan-gerakan kontraksi otot perut saat melakukan renang gaya kupu-kupu.
Kontraksi otot di bedakan atas dua macam kekuatan masing-masing adalah kekuatan statis dan kekuatan dinamis. Kekuatan statis adalah kekuatan efektif maksimal yang dilakukan oleh organ  dalam dalam kegiatan terhadap benda yang tidak bergerak. Dan kekuatan dinamis adalah kekuatan daya otot-otot untuk memindahkan posisi suatu benda dari suatu tempat ke tempat yang lain.
Kebanyakan penampilan dalam olahraga melibatkan gerakan-gerakan yang di sebabkan oleh kekuatan yang di hasilkan oleh kontraksi otot.Kontraksi otot di gunakan untuk menghasilkan tenaga internal yang mengatur gerakan bahagian-bahagian badan.
Perut atau abdominal adalah kelompok anggota tubuh bagian togok yang didalamnya merupakan kelompok otot perut yang bersumbu pada persendian togok. Kelompok otot perut (muscle abdominal group) meliputi: Otot perut bagian dalam (transversus abdominis), Otot perut bagian samping (obliges abdominis), dan otot perut bagian depan (rectus abdominis). Jika dilihat dari karakteristik tekhnik gerakan gaya kupu-kupu maka dominan otot yang lebih banyak berperan adalah otot perut bagian depan (rectus abdominius).

B.     Kerangka Pikir

Atas dasar tinjauan pustaka yang telah dikemukakan sebelumnya, maka kerangka berpikir yang dapat dikemukakan oleh peneliti adalahJika seseorang memiliki panjang lengan yang baik maka akan memberikan sumbangan yang lebih besar terhadap kecepatan renang pada gaya kupu-kupu,Jika seseorang memiliki kekuatan tungkai yang baik maka akan memberikan sumbangan yang lebih besar terhadap kecepatan renang pada gaya kupu-kupu, Jika seseorang memiliki kekuatan otot perut yang baik maka akan memberikan sumbangan yang lebih besar terhadap kcepatan renang gaya kupu-kupu, Dan Jika seseorang memiliki panjang lengan,kekuatan otot tungkai dan kekuatan otot perut yang baik maka akan memberikan sumbangan yang lebih besar terhadap kecepatan renang pada gaya kupu-kupu.

C.   Hipotesis penelitian

Atas dasar kerangka berpikir, maka hipotesis penelitian ini dapat dirumuskan sebagai berikut:
1.    Ada kontribusi panjang lengan terhadap kecepatan renang pada gaya kupu-kupu.
2.    Ada kontribusi kekuatan tungkai terhadap kecepatan renang pada gaya kupu-kupu.
3.    Ada kontribusi kekuatan otot perut terhadap kecepatan renang pada gaya kupu-kupu. 
4.  Ada kontribusi panjang lengan,kekuatan otot tungkai dan kekuatan otot perut terhadap kecepatan renang gaya kupu-kupu.
Hipotesisi I                                                          
Ho: βx1.y= 0                                   
H1:βx1.y≠ 0                        
Hipotesis II                                  
Ho: βx2.y= 0                                   
H1: βx2.y ≠ 0                                  
Hipotesis III
Ho: βx3.y = 0          
H1: βx3.y ≠ 0
Hipotesisi IV
Ho: R(1.2.3.y) = 0
H1:R(1.2.3.y)  ≠ 0


BAB III
METODOLOGI PENELITIAN

Metodologi penelitian perlu diterapkan sesuai dengan prosedur dan ketentuan yang sebenarnya untuk memperoleh data yang mempunyai tingkat validitas dan reliabilitas. Dalam bab ini akan dikemukakan hal-hal yang menyangkut identifikasi variabel dan desain penelitian, definisi operasional variabel, populasi dan sampel, teknik pengumpulan data, dan teknik analisis data.
Pelaksanaan penelitian pada dasarnya adalah ingin memperoleh informasi atau data guna memecahkan masalah yang diteliti. Informasi yang diharapkan hendaklah melalui prosedur yang sistematis serta terarah dan bersifat ilmiah. Penggunaan metode yang tepat akan menghasilkan jawaban terhadap masalah yang diteliti. Jadi metode penelitian berarti cara-cara yang dipergunakan untuk mencapai tujuan operasional suatu penelitian.

A.   Identifikasi Variabel dan desain penelitian

1.   Variabel penelitian
Ada dua variabel yang terlibat dalam penelitian ini, yakni variabel bebas dan variabel terikat. Kedua variabel tersebut akan diidentifikasikan ke dalam penelitian ini sebagai berikut:
a.  Variabel bebasnya ada tiga yaitu:
1) Panjang lengan  (X1)
2) Kekuatan Tungkai (X2)
3) Kekuatan Otot Perut (x3)
b.  Variabel terikatnya yaitu:
1) Kecepatan renang gaya kupu-kupu (Y).

2.    Desain penelitian
Desain penelitian sebagai rancangan atau gambaran yang dijadikan sebagai acuan dalam melakukan suatu penelitian.Penelitian ini adalah jenis penelitian yang bersifat deskriptif yang bertujuan untuk mengetahui berapa besar kontribusipanjang lengan, Kekuatan otot tungkai Dan kekuatan otot perut Terhadap Kecepatan Renang Gaya Kupu-Kupu Pada Atlet Renang Kota Makassar.
Dengan demikian model desain penelitian yang di gunakan secara sederhana dapat dilihat pada gambar sebagai berikut:


Gambar 2: desain penelitian
Sumber : Sugiyono (2000)

Keterangan:
X1 = Panjang lengan
X2 = Kekuatan otot tungkai
X3 = Kekuatan otot perut
            R  = Gabungan antara X123
Y  = Kecepatan Renang Gaya kupu-kupu

B.   Definisi Operasional Variabel Penelitian

Untuk menghindari terjadinya pengertian yang keliru tentang konsep variabel yang terlibat dalam penelitian ini, maka variabel-variabel tersebut perlu didefinisikan secara operasional sebagai berikut:
1.    Panjang lengan yang dimaksud adalah keadaan yang menggambarkan tentang anggota gerak tubuh bagian atas,yang mempengaruhi jangkauan renangan.Panjang lengan seseorang dapat diketahui melalui pengukuran panjang lengan dengan satuan ukuran centimeter.
2.    Kekuatan tungkai yang dimaksud adalah komponen kondisi fisik seseorang tentang kemampuannya dalam mempergunakan otot untuk menerima beban sewaktu bekerja.Jadi kekuatan otot tungkai adalah kemampuan otot-otot tungkai untuk menahan beban sewaktu bekerja. Kekuatan tungkai seseorang dapat di ketahui melalui satuan ukuran leg dynamometer.
3.    Kekuatan otot perut yang dimaksud Dalam  penelitian ini  adalah  gerakan-gerakan  kontraksi  otot perut sewaktu bekerja. Kekuatan otot perut  dapat di ketahui melalui cara duduk baring dengan satuan ukuran detik.
4.    Kecepatan renang gaya kupu-kupu yang di maksud adalah kemampuan seseorang untuk mengerjakan gerakan berkesinambungan secara maksimal dalam bentuk yang sama dan dalam waktu yang sesingkat-singkatnya dengan jarak 50 meter.

C.   Populasi Dan Sampel

1.  Populasi
Populasi adalah seluruh penduduk yang dimaksud untuk diselidiki.
Populasi dibatasi oleh sejumlah penduduk atau individu yang paling sedikit mempunyai sifat yang sama (Sutrisno Hadi, 1988:220).
Sedangkan menurut Suharsimi Arikunto populasi adalah keseluruhan obyek penelitian.
Olehnya itu Populasi dalam penelitian ini adalah atlet renang putri kota Makassar.
2.  Sampel
Sebagian populasi yang diselidiki disebut sampel atau contoh (Sutrisno Hadi, 1988:221).Besar kecilnya sampel dari jumlah populasi sebenarnya tidak ada ketentuan yang mutlak berapa persen sampel yang harus diambil dari populasi (Sutrisno Hadi, 1988:74).
Dalam penelitian ini yang dimaksud dengan sampel adalah sebagian individu yang memiliki karakter sama untuk diselidiki dan dapat mewakili seluruh populasi.
Berdasarkan pengertian tersebut maka sampel yang diambil atau digunakan dalam penelitian ini berjumlah 30 orang atlet renang putrikota Makassar.

D.   Teknik pengumpulan data

Data yang perlu dikumpulkan ini adalah survey tes dengan tekhnik korelasi,pengambilan data dilakukan dengan pemberian tes dan pengukuran melalui metode survey,yaitu peneliti mengamati secara langsung pelaksanaan tes dan pengukuran dilapangan. Tes dan pengukuran yang dilakukan meliputi:

1.    Tes dan Pengukuran panjang lengan
Tujuan              :          
-       untuk mengetahui keadaan panjang lengan atlet dengan ukuran centimeter.
Alat /Fasilitas   :
-       Meteran atau skala centimeter
-       formulir dan alat tulis.
Pelaksanaan   :
-       sampel berdiri tegak,tester berdiri di samping kanan atau kiri sampel,kemudian tester mulai mengukur lengan sampel dimulai dari titik sumbu gerak lengan (acromion) atas sampai ujung jari tengah.
Tes panjang lengan (Antropometrik)
(Nur  Ichsan Halim, 2009:155)
(dokumentasi pribadi)

2.    Tes dan Pengukuran kekuatan otot tungkai
Tujuan              :
-       Mengukur kekuatan otot tungkai
Alat/Fasilitas    :
-       Leg Dynamometer
-       Formulir tes
-       Alat tulis
Pelaksanaan   :
-       Sampel memakai pengikat pinggang, kemudian berdiri dengan membengkokkan kedua lututnya hingga membentuk sudut ± 450, kemudian alat pengikat pinggang tersebut dikaitkan pada leg dynamometer. Setelah itu sampel berusaha sekuat-kuatnya meluruskan kedua tungkainya. Setelah sampel itu meluruskan kedua tungkainya dengan maksimum, lalu kita lihat jarum alat-alat tersebut menunjukkan angka berapa. Angka tersebut menyatakan besarnya kekuatan otot tungkai sampel.
Penilaian          :
-       Skor terbaik dari tiga kali percobaan dicatat sebagai skordalam satuan kg, dengan tingkat ketelitian 0,5 kg.

Tes Kekuatan otot tungkai (leg dynamometer)
(Nur  Ichsan Halim, 2009:27-28)

3.    Tes dan pengukuran kekuatan otot perut
Tujuan              :
-       Untuk mengukur kekuatan otot perut
Alat/fasilitas     :
-       Lantai rata
-       Stopwatch
-       Formulir tes
-       Alat tulis
Pelaksanaan   :
-       Sampel dalam keadaan posisi berbaring dengan jari-jari kedua tangan di selipkan di belakang kepala.Untuk menjaga kestabilan badan sampel diperlukan seseorang duduk di punggung kaki sampel.Selanjutnya setelah aba-aba ”ya” sampel melakukan gerakan duduk baring (sit-up). Pelaksanaan sit-up dilakukan selama 30 detik.Kesempatan di berikan sebanyak 1 kali.



4.    Tes kecepatan renang gaya kupu-kupu.
Tujuan     -  untuk mengukur kecepatan renang gaya kupu-kupu atlet renang putri kota makassar sejauh 50 meter.
Alat/Fasilitas
-       Kolam renang sepanjang 50 M
-       Stopwach
-       Formulir tes dan Alat tulis.
Pelaksanan
-       Sampel berdiri dipinggir kolam renang.Dengan posisi siap untuk mendengarkan aba-aba dari peneliti.Kemudian sampel melakukan renangan sejauh 50 meter.
Penilaian
-       Hasil yang diambil adalah waktu yang ditempuh sejauh 50 meter oleh sampel dan dicatat oleh peneliti, kesempatan diberikan 1 kali kesempatan.

E.   Teknik Analisis Data

Bentuk data dalam penelitian ini adalah bentuk angka yaitu data hasil pengukuran panjang lengan,kekuatan otot tungkai,kekuatan otot perut dan kecepatan renang 50 meter gaya kupu-kupu. Secara teknik cara pengukurannya ada empat yang dilakukan terhadap semua sampel.Data yang melalui tes ini masih merupakan data kasar. Data tersebut selanjutnya dianalisis dengan menggunakan uji statistik korelasional dengan paket SPSS 16.



BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
            Dalam bab ini akan dikemukakan penyajian hasil analisis data dan pembahasan. Penyajian hasil analisis data meliputi analisis statistik deskriptif dan inferensial. Kemudian dilakukan pembahasan hasil analisis dan kaitannya dengan teori yang mendasari penelitian ini untuk memberi interpretasi dari hasil analisis data.
A.     Penyajian Hasil Analisis Data
Data empires yang diperoleh dilapangan melalui hasil tes dan pengukuran yang terdiri dari: panjang lengan, kekuatan tungkai, kekuatan otot perut dan kecepatan renang gaya kupu-kupu pada atlet renang Kota Makassar, selanjudnya dianalisis dengan menggunakan teknik statistik deskriptif dan statistik inferensial. Analisis data secara deskriptif dimaksudkan untuk mendapatkan gambaran umum data penelitian, kemudian dilanjutkan dengan pengujian persyaratan analisis yaitu uji normalitas data. Sedangkan analisis data secara inferensial dimaksudkan untuk mendapatkan hasil pengujian hipotesis yang diajukan dalam penelitian ini.

1.     Analisis Deskriptif
Analisis deskriptif dilakukan untuk data panjang lengan, kekuatan tungkai, kekuatan otot perut, dan kecepatan renang gaya kupu-kupu pada atlit renang Kota Makassar. Rangkuman hasil analisisnya tercantum dalam tabel 1.
Tabel 1.         Rangkuman Hasil analisis deskriptif data panjang lengan, kekuatan otot tungkai, dan kekuatan otot perut terhadap kecepatan renang gaya kupu-kupu pada atlet renang Kota Makassar.
Nilai Statistik
N
Mean
SD
Variance
Min
Max
Range
PL
30
68.67
2.294
5.264
65.00
73.00
8.00
KOT
30
80.98
8.271
68.405
70.00
96.00
26.00
KOP
30
19.77
3.126
9.771
15.00
26.00
11.00
KRGK
30
38.39
6.098
37.187
29.17
47.50
18.33

Keterangan :
PL       : Panjang Lengan
KOT    : Kekuatan Otot Tungkai
KOP    : Kekuatan Otot Perut
KRGK : Kecepatan renang gaya Kupu-kupu

Dari tabel di atas, maka dapat di kemukakan gambaran data tiap variabel sebagai berikut :
a.    Untuk data panjang lengan dari jumlah sampel 30 orang, diperoleh nilai rata-rata68.67 cm, standar deviasi 2.294 cm, variance 5.264 cm, nilai minimum 65.00 cm, nilai maksimum 73.00 cm, range (rentang) 8.00 cm.
b.    Untuk data kekuatan otot tungkai dari jumlah sampel 30 orang, diperoleh nilai rata-rata80.98 kg, standar deviasi 8.271 kg, variance 68.405 kg, nilai minimum 70.00 kg, nilai maksimum 96.00 kg, range (rentang) 26.00 kg.
c.    Untuk data kekuatan otot perut dari jumlah sampel 30 orang, diperoleh nilai rata-rata19.77 kali, standar deviasi 3.126 kali, variance 9.771 kali, nilai minimum 15.00 kali, nilai maksimum 26.00 kali, range (rentang) 11.00 kali.
d.    Untuk data kecepatan renang gaya kupu-kupu 50 meter dari jumlah sampel 30 orang, diperoleh nilai rata-rata38.39 detik, standar deviasi 6.098 detik, variance 37.187 detik, nilai minimum 29.17 detik, nilai maksimum 47.50 detik, range (rentang) 18.33 detik.

2.     Uji Normalitas Data

Salah satu asumsi yang harus dipenuhi agar statistik parametrik dapat digunakan adalah data mengikuti sebaran normal. Apabila pengujian ternyata data berdistribusi normal, maka analisis statistik yang harus digunakan adalah analisis statistik non parametrik.
Untuk mengetahui apakah data dalam penelitian ini berdistribusi normal, maka dilakukan pengujian dengan menggunakan uji Kolmogorov Smirnov.
Rangkuman hasil pengujiannya dapat dilihat pada tabel 2.
Tabel 2.         Rangkuman hasil uji normalitas datapanjang lengan, kekuatan otot tungkai, dan kekuatan otot perut terhadap kecepatan renang gaya kupu-kupu pada atlet renang Kota Makassar.

Variabel
Absolut
Positif
Negatif
KS-Z
Prob.
Ket.
PL
0,119
0,100
-0,119
0,654
0,786
Normal
KOT
0,114
0,114
-0,092
0,625
0,829
Normal
KOP
0,137
0,137
-0,083
0,750
0,627
Normal
KRGK
0,130
0,090
-0,130
0,711
0,692
Normal
Berdasarkan tabel 2 di atas, maka dapatlah diperoleh gambaran bahwa pengujian normalitas data dengan menggunakan uji kolmogorov Smirnov menunjukkan hasil sebagai berikut :
a.  Untuk data panjang lengan, diperoleh nilai KS-Z = 0,654 ( P > 0,05 ) berarti hal ini menunjukkan bahwa data tersebut mengikuti sebaran normal atau berdistribusi normal.
b.  Untuk data kekuatan otot tungkai, diperoleh nilai KS-Z = 0,625 ( P > 0,05 ) berarti hal ini menunjukkan bahwa data tersebut mengikuti sebaran normal atau berdistribusi normal.
c.   Untuk data kekuatan otot perut, diperoleh nilai KS-Z = 0,750 ( P > 0,05 ) berarti hal ini menunjukkan bahwa data tersebut mengikuti sebaran normal atau berdistribusi normal.
d.  Untuk data kecepatan renang gaya kupu-kupu 50 meter, diperoleh nilai KS-Z = 0,711 ( P > 0,05 ) berarti hal ini menunjukkan bahwa data tersebut mengikuti sebaran normal atau berdistribusi normal.
3.     Analisis Regresi

Hipotesis yang diajukan dalam penelitian ini perlu diuji dan dibuktikan melalui data empiris yang diperoleh di lapangan melalui tes dan pengukuran terhadap variabel yang diteliti. Karena data penelitian ini mengikuti sebaran normal, maka untuk menguji hipotesis penelitian ini digunakan analisis statistik parametrik dengan menggunakan teknik regresi Person.
a.     Regresi sederhana  antara panjang lengan terhadap kecepatan renang gaya kupu-kupu 50 meter

Data panjang lengan diperoleh melalui pengukuran panjang lengan (meteran). Untuk mengetahui kontribusi antara panjang lengan terhadap kecepatan renang gaya kupu-kupu 50 meter pada atlet renang kota makassar, maka dilakukan analisis regresi Pearson. Rangkuman hasil analisisnya tercantum dalam tabel 3.
Tabel 3.    Rangkuman hasil analisis regresi panjang lengan terhadap kecepatan renang gaya kupu-kupu 50 meter pada atlet renang kota makassar
Variabel
N
β
to
Pvalue
Keterangan
PL ( X1)

KRGK (Y)
30
0,391
4,238
0,000
Signifikan

Berdasarkan tabel 3 di atas, terlihat bahwa hasil perhitungan regresi Pearson Diperoleh nilai β= 0,391 dengan t hitung (to) = 4,238 (P < 0,05) berarti ada kontribusi yang signifikan panjang lengan terhadap kecepatan renang gaya kupu-kupu pada atlet renang kota makassar. Panjang lengan memberikan sumbangan sebesar 39,10% terhadap kecepatan renang gaya kupu-kupu. Dengan demikian jika atlet renang kota makassar memiliki lengan yang panjang akan memberikan kontribusi terhadap kecepatan renang gaya kupu-kupu.
b.     Regresi sederhana antara kekuatan otot tungkai terhadap kecepatan renang gaya kupu-kupu 50 meter

Data kekuatan otot tungkai diperoleh melalui pengukuran dengan menggunakan Leg Dynamometer. Untuk mengetahui kontribusi antara kekuatan otot tungkai terhadap kecepatan renang gaya kupu-kupu 50 meter pada atlet renang kota makassar, maka dilakukan analisis regresi Pearson. Rangkuman hasil analisisnya tercantum dalam tabel 4.
Tabel 4.    Rangkuman hasil analisis regresi kekuatan otot tungkai terhadap kecepatan renang gaya kupu-kupu 50 meter pada atlet renang kota makassar.
Variabel
N
β
to
Pvalue
Keterangan
KOT ( X3)

KRGK (Y)
30
0,360
3,973
0,000
Signifikan
Berdasarkan tabel 4 di atas, terlihat bahwa hasil perhitungan regresi Pearson Diperoleh nilai β= 0,360 dengan t hitung (to) = 3,973 (P < 0,05) berarti ada kontribusi yang signifikan kekuatan otot tungkai terhadap kecepatan renang gaya kupu-kupu pada atlet renang kota makassar. Kekuatan otot tungkai memberikan sumbangan sebesar 36,00% terhadap kecepatan renang gaya kupu-kupu. Dengan demikian jika atlet renang kota makassar memiliki kekuatan otot tungkai yang baik akan memberikan kontribusi terhadap kecepatan renang gaya kupu-kupu.
c.     Regresi sederhana antara kekuatan otot Perut terhadap kecepatan renang gaya kupu-kupu 50 meter.

Data kekuatan otot perut diperoleh melalui pengukuran dengan menggunakan tes Sit Up. Untuk mengetahui kontribusi antara kekuatan otot perut terhadap kecepatan renang gaya kupu-kupu 50 meter pada atlet renang kota makassar, maka dilakukan analisis regresi Pearson. Rangkuman hasil analisisnya tercantum dalam tabel 5.
Tabel 5.    Rangkuman hasil analisis regresi kekuatan otot perut terhadap kecepatan renang gaya kupu-kupu 50 meter pada atlet renang kota makassar.
Variabel
N
β
to
Pvalue
Keterangan
KOP ( X3)

KRGK (Y)
30
0,728
8,660
0,000
Signifikan
Berdasarkan tabel 5 di atas, terlihat bahwa hasil perhitungan regresi Pearson Diperoleh nilai β=0,728 dengan t hitung (to) = 8,660 (P < 0,05) berarti ada kontribusi yang signifikan kekuatan otot perut terhadap kecepatan renang gaya kupu-kupu pada atlet renang kota makassar. Kekuatan otot perut memberikan sumbangan sebesar 72,80% terhadap kecepatan renang gaya kupu-kupu. Dengan demikian jika atlet renang kota makassar memiliki kekuatan otot perut yang baik akan memberikan kontribusi terhadap kecepatan renang gaya kupu-kupu.
d.     Regresi Ganda antara panjang lengan, kekuatan otot tungkai dan kekuatan otot Perut terhadap kecepatan renang gaya kupu-kupu 50 meter.

Analisis regresi ganda dilakukan untuk mengetahui keeratan secara bersma-sama ketiga variabel bebas terhadap variabel terikat, yakni keeratan kontribusi secara bersama-sama antara panjang lengan, kekuatan otot tungkai dan kekuatan otot perut terhadap kecepatan renang gaya kupu-kupu 50 meter pada atlet renang Kota Makassar. Rangkuman hasil analisisnya tercantum dalam tabel 6.
Tabel 6.    Rangkuman hasil analisis regresi secara bersama-sama panjang lengan, kekuatan otot tungkai dan kekuatan otot perut terhadap kecepatan renang gaya kupu-kupu 50 meter pada atlet renang kota makassar.
Variabel
N
R
R2
F
Pvalue
Ket
PL (X1), KOT (X2),
 KOP (X3)

KRGK (Y)
30
0,854
0,729
23,284
0,000
Sig

Keterangan:
PL       = Panjang lengan
KOT    = Kekuatan otot tungkai
KOP    = Kekuatan otot perut

Berdasarkan tabel 6 diatas, terlihat bahwa hasil perhitungan regresi ganda, diperoleh nilai R hitung (Ro) = 0,854, setelah dilakukan uji signifikan dengan menggunakan uji F, maka di peroleh F hitung = 23,284 (P < 0,005), berarti ada kontribusi yang signifikan antara panjang lengan, kekuatan otot tungkai, dan kekuatan otot perut terhadap kecepatan renang gaya kupu-kupu pada atlet renang kota makassar. Nilai R2 diperoleh 0,729berarti bahwa 72,90% kecepatan renang gaya kupu-kupu dapat dijelaskan oleh ketiga variabel bebas secara bersama-sama. Sedangkan sisanya 27,10% dijelaskan oleh variabel lain yang tidak diamati dalam penelitian ini.

4.     Pengujian Hipotesis

Ada empat hipotesis yang diajukan dalam penelitian ini. Keempat hipotesis tersebut harus diuji kebenarannya melalui data empiris, setelah dilakukan pengujian dengan menggunakan uji regresi Pearson yang dilanjudkan dengan uji F regresi, maka diperoleh hasil seperti berikut ini:

a.     Ada kontribusi panjang lengan terhadap kecepatan renang gaya kupu-kupu 50 meter.

Hipotesis statistik yang diuji :
H0 : βx1y = 0
H1x1y ≠ 0
Hasil pengujian :
Dari hasil analisis data diperoleh nilai β=  0,391 dengan t hitung (to)= 4,238 (P < 0,05), maka H0 di tolak dan H1 diterima berarti ada kontribusi yang signifikan antara panjang lengan terhadap kecepatan renang gaya kupu-kupu atlet renang kota Makassar . hal ini mengandung makna bahwa, apabila atlet memiliki lengan yang panjang maka diikuti dengan kecepatan renang gaya kupu-kupu. Ini dapat dilihat besar sumbangan panjang lengan 39,10% terhadap kecepatan renang gaya kupu-kupu.

b.     Ada kontribusi kekuatan otot tungkai terhadap kecepatan renang gaya kupu-kupu 50 meter.

Hipotesis statistik yang diuji :
H0: βx2y = 0
H1x2y ≠ 0
Hasil pengujian :
Dari hasil analisis data diperoleh nilai β=  0,360 dengan t hitung (to)= 3,973 (P < 0,05), maka H0 di tolak dan H1 diterima berarti ada kontribusi yang signifikan antara kekuatan otot tungkai terhadap kecepatan renang gaya kupu-kupu atlet renang kota Makassar . hal ini mengandung makna bahwa, apabila atlet memiliki kekuatan otot tungkai yang baik maka diikuti dengan kecepatan renang gaya kupu-kupu yang baik pula. Ini dapat dilihat besar sumbangan kekuatan tungkai 36,00% terhadap kecepatan renang gaya kupu-kupu.
c.     Ada kontribusi kekuatan otot perut terhadap kecepatan renang gaya kupu-kupu 50 meter.

Hipotesis statistik yang diuji :
H0: βx3y = 0
H1x3y ≠ 0
Hasil pengujian :
Dari hasil analisis data diperoleh nilai β=  0,728 dengan t hitung (to)= 8,660 (P < 0,05), maka H0 di tolak dan H1 diterima berarti ada kontribusi yang signifikan antara kekuatan otot perut terhadap kecepatan renang gaya kupu-kupu atlet renang kota Makassar . hal ini mengandung makna bahwa, apabila atlet memiliki kekuatan otot perut yang baik maka diikuti dengan kecepatan renang gaya kupu-kupu yang baik pula. Ini dapat dilihat besar sumbangan otot perut72,80% terhadap kecepatan renang gaya kupu-kupu.
d.     Ada kontribusi secara bersama-sama panjang lengan, kekuatan otot tungkai dan kekuatan otot perut terhadap kecepatan renang gaya kupu-kupu 50 meter.

Hipotesis statistik yang diuji :
H0: Rx123y
H1:Rx123y
Hasil pengujian :
Dari hasil analisis data regresi ganda diperoleh nilai R hitung (R0) = 0,854 setelah dilakukan uji signifikan atau uji keberartian regresi ganda dengan menggunakan uji F regresi diperoleh nilai F hitung = 23,284 dengan tingkat signifikan 0,000. Oleh karna nilai probabilitas (0,000) jauh lebih kecil dari 0,05 (P <  0,05), maka model regresi dapat di gunakan untuk memprediksi kecepatan renang gaya kupu-kupu (dapat diberlakukan untuk populasi dimana sampel diambil). Maka H0 ditolak dan H1 diterima atau koefisien regresi signifikan, dengan demikian ada kontribusi yang signifikan secara bersama-sama panjang lengan, kekuatan otot tungkai dan kekuatan otot perut terhadap kecepatan renang gaya kupu-kupu. Nilai koefisien determinasi (R square) yang diperoleh 0,729 ini berarti bahwa 72,90 % kecepatan renang gaya kupu dijelaskan oleh panjang lengan, kekuatan otot tungkai, dan kekuatan otot perut. Sedangkan sisanya 27,10 % dijelaskan oleh variabel lain yang tidak diamati dalam penelitian ini. Hal ini mengandung makna bahwa apabila pemain memiliki panjang lengan, kekuatan otot tungkai, dan kekuatan otot perut yang normal dan baik maka akan diikuti dengan kecepatan renang gaya kupu-kupu yang baik pula.

B.    Pembahasan

Hasil-hasil analisis hubungan antara ketiga variabel bebas dengan satu variabel terikat dalam pengujian hipotesis seperti yang telah dikemukakan di atas, masih perlu di kaji lebih lanjut untuk memberikan interpretasi ketertarikan antara hasil analisis yang dicapai dengan teori-teori yang mendasari penelitian ini.Penjelasan ini diperlukan agar dapat diketahui kesesuaian teori-teori yang dikemukakan dengan hasil penelitian yang diperoleh.

1.     Ada kontribusi yang signifikan panjang lengan terhadap kecepatan renang gaya kupu-kupu pada atlet renang Putri Kota Makassar.

Hipotesis pertama H0 di tolak dan H1 diterima yaitu: ada kontribusi yang signifikan panjang lengan terhadap kecepatan renang gaya kupu-kupu pada atlet renang Kota Makassar. Hasil yang diperoleh tersebut apabila dikaitkan dengan kerangka berfikir maupun teori-teori yang mendasarinya, pada dasarnya hasil penelitian ini mendukung teori-teori yang ada. Hal ini dapat dijelaskan bahwa apabila perenang yang memiliki panjang lengan yang normal atau baik, panjang lengan yang baik atau normal akan dapat menjangkau lebih jauh, sehingga tarikan lebih panjang maka kecepatannya lebih cepat sehingga renang gaya kupu-kupunya lebih cepat.
Pengukuran mengenai struktur tubuh dikenal dengan istilah antropometrik. Antropometrik merupakan bentuk pengukuran struktur tubuh yang tertua di pergunakan, dari beberapa pengukuran-pengukuran tersebut yang menjadi focus dalam penelitian ini adalah panjang lengan, dimana Dalam renang diperlukan lengan yang panjang yang keseluruhannya  berfungsi sebagai pendayung. Untuk mendorong maju dibutuhkan gerakan mendayung dengan gerakan memutar seakan-akan melewati tabung atau tabung imajinasi (Thomas, 2000 : 16 ). Dengan demikian semakin panjang lengan keseluruhan seseorang akan semakin jauh jangkauannya. Semakin jauh jangkauannya, bila diasumsikan kekuatan dan kecepatannya sama, maka akan semakin pendek waktu yang ditempuh untuk jarak tertentu.
Dengan  demikian  dapat  disimpulkan  bahwa panjang atau pendeknya lengan keseluruhan berpengaruh terhadap kecepatan renangnya.

2.     Ada kontribusi yang signifikan kekuatan otot tungkai terhadap kecepatan renang gaya kupu-kupu pada atlet renang Putri Kota Makassar.

Hipotesis kedua H0 di tolak dan H1 diterima yaitu: ada kontribusi yang signifikan kekuatan otot tungkai terhadap kecepatan renang gaya kupu-kupu pada atlet renang Kota Makassar.
Hasil yang diperoleh tersebut apabila dikaitkan dengan kerangka berfikir maupun teori-teori yang mendasarinya, pada dasarnya hasil penelitian ini mendukung teori-teori yang ada. Hal ini dapat dijelaskan bahwa apabila atlet memiliki kekuatan otot tungkai yang baik pada saat berenang, maka akan dapat melakukan renangan dengan cepat , karena didukung dengan kekuatan otot tungkai yang baik. Jadi kekuatan otot tungkai merupakan sejumlah daya tegang otot tungkai yang dipergunakan dalam kontraksi maksimum pada suatu aktivitas berat seperti dalam melaksanakan renangan, sehingga mengakibatkan renangan yang dilakukan menghasilkan laju renang yang cepat karena dukungan dari kekuatan otot tungkai. Kekuatan otot tungkai yang dimaksud dalam penelitian ini adalah apabila perenang yang memiliki kekuatan otot tungkai yang kuat akan memiliki tungkai kuat. Tungkai yang kuat akan dapat melakukan gerakan dolpin yang kuat dan cepat pada renang gaya kupu-kupu.
Tungkai adalah anggota badan bawah mencakup tungkai dan panggul serta sendi-sendi dan otot-ototnya. Tungkai di bentuk oleh tulang atas atau paha (os femoris/femur), sedangkan tungkai bawah terdiri dari tulang kering (os Tibia) dan betis serta tulang kaki, sedangkan gelang panggul dibentuk oleh coksea dengan tulang sacrum, terdapat dua persendian pada gelang panggul, yaitu : sendi usus kelangka dan sendi sela kemaluan, gelang panggul mempunyai hubungan yang kokoh dengan batang badan sesuai dengan faalnya sebagai alat yang harus menerima berat badan dan meneruskannya pada kedua tungkai hanya dalam penelitian ini tungkai harus mempunyai kekuatan yang baik agar dapat mempertahankan diri. Tungkai sama denga kaki mulai dari pangkal paha ke bawah sampai dengan telapak kaki, merupakan anggota gerak bagian bawah yaitu seluruh kaki di tambah dengan panggul.
Lutut adalah persendian terbesar dari tubuh manusia dan meskipun relatif kuat, biasanya mudah kena cedera karena susunan fisik yang kompleks dari lutut karena sering kali mengalami tekanan yang berlebihan selama melakukan aktifitas fisik seperti olahraga renang. Saat melakukan gerakan kaki pada gaya kupu-kupu sangat berpengaruh dengan kekuatan tungkai karena dapat mempercepat laju renang kedepan. Dimana ujung proksimal dari tibia membentuk permukaan persendian yang agak cembung. Dua condylus femur yang besar dikelilingi oleh susunan ligamenta dan otot yang kuat untuk membantu tulang-tulang menyerap kekuatan yang ada ketika melakukan pukulan kaki pada gaya kupu-kupu.
Kekuatan otot tungkai adalah komponen kondisi fisik seseorang tentang kemampuannya dalam mempergunakan otot untuk menerima beban sewaktu bekerja (M.Sajoto,1995:8). Jadi kekuatan otot tungkai adalah kemampuan otot-otot tungkai untuk menahan beban sewaktu bekerja.

3.     ada kontribusi yang signifikan kekuatan otot perut  terhadap kecepatan renang gaya kupu-kupu pada atlet renang Kota Makassar.

Hipotesis ketiga H0 di tolak dan H1 diterima yaitu: ada kontribusi yang signifikan kekuatan otot perut  terhadap kecepatan renang gaya kupu-kupu pada atlet renang Kota Makassar. Hasil yang diperoleh tersebut apabila dikaitkan dengan kerangka berfikir maupun teori-teori yang mendasarinya, pada dasarnya hasil penelitian ini mendukung teori-teori yang ada. Hal ini dapat dijelaskan bahwa apabila atlet memiliki kekuatan otot perut yang kuat, maka akan dapat melakukan gerakan gaya kupu-kupu yang cepat terutama pada saat dolpin dan pada saat recovery .jadi kekuatan otot perut merupakan gerakan-gerakan kontraksi otot perut yang maximum saat melakukan renang gaya kupu-kupu sehingga mengakibatkan renangan yang dihasilkan menjadi semakin cepat.
Kebanyakan penampilan dalam olahraga melibatkan gerakan-gerakan yang di sebabkan oleh kekuatan yang di hasilkan oleh kontraksi otot.Kontraksi otot di gunakan untuk menghasilkan tenaga internal yang mengatur gerakan bahagian-bahagian badan.
Perut atau abdominal adalah kelompok anggota tubuh bagian togok yang didalamnya merupakan kelompok otot perut yang bersumbu pada persendian togok. Kelompok otot perut (muscle abdominal group) meliputi: Otot perut bagian dalam (transversus abdominis), Otot perut bagian samping (obliges abdominis), dan otot perut bagian depan (rectus abdominis). Jika dilihat dari karakteristik tekhnik gerakan gaya kupu-kupu maka dominan otot yang lebih banyak berperan adalah otot perut bagian depan (rectus abdominius).

4.     Ada kontribusi yang signifikan secara bersma-sama panjang lengan, kekuatan otot tungkai dan kekuatan otot perut  terhadap kecepatan renang gaya kupu-kupu pada atlet renang Putri Kota Makassar.

Hipotesis keempat H0 di tolak dan H1 diterima yaitu: ada kontribusi yang signifikan secara bersma-sama panjang lengan, kekuatan otot tungkai dan kekuatan otot perut  terhadap kecepatan renang gaya kupu-kupu pada atlet renang Kota Makassar. Hal ini dapat dijelaskan bahwa ketiga variabel bebas ini secara bersama-sama memberikan kontribusi yang nyata terhadap kecepatan renang gaya kupu-kupu  dan sekaligus membuktikan bahwa seseorang atlet renang harus memiliki lengan yang panjang, kekuatan otot tungkai dan kekuatan otot perut yang baik pada saat berenang. Panjang lengan dalam kaitannya memiliki jangkauan jauh kedepan sehingga mampu melakukan renangan gaya kupu-kupu dengan cepat. Kekuatan otot tungkai dalam kaitannya memperkuat  dan mempercepat gerakan kaki pada saat melakukan dolpin dalam renangan gaya kupu-kupu. Kekuatan otot perut dalam kaitannya menambah kelentukan pinggul pada saat melakukan dolpin dalam renangan gaya kupu-kupu.

BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN

Dalam bab ini dikemukakan  kesimpulan penelitian sebagai tujuan akhir dari suatu penlitian, yang dikemukakan berdasarkan hasil analisis data dan pembahasannya. Dari kesimpulan penelitian ini akan di kemukakan beberapa saran sebagai rekomendasi bagi penerapan dan pengembangan hasil penelitian.

A.     Kesimpulan

Berdasarkan analisis data dan pembahasannya maka hasil penelitian ini dapat disimpulkan sebagai berikut :
1.  Ada kontribusi panjang lengan terhadap kecepatan renang pada gaya kupu-kupu.
2.  Ada kontribusi kekuatan tungkai terhadap kecepatan renang pada gaya kupu-kupu.
3.  Ada kontribusi kekuatan otot perut terhadap kecepatan renang pada gaya kupu-kupu.
4.  Ada kontribusi secara bersama-sama antara panjang lengan, kekuatan otot tungkai dan kekuatan otot perut terhadap kecepatan renang gaya kupu-kupu.

B.    Saran
Berdasarka hasil analisis data dan kesimpulan penelitian ini, maka dapat disarankan atau direkomendasikan beberapa hal :
1.  Untuk meningkatkan kecepatan renang gaya kupu-kupu maka perlu diperhatikan panjang lengan, kekuatan otot tungkai, dan kekuatan otot perut seorang atlet.
2.  Kepada para pelatih renangagar hasil penelitian ini dapat dijadikan bahan acuan dalam melatih cabang olahraga renang. Dalam hal ini komponen fisik panjang lengan, kekuatan otot tungkai, dan kekuatan otot perut atlet dalam latihan dapat diperhatikan.
3.  Kepada orang tua atlet dapat memperhatikan gizi makanan anak-anaknya agar dapat tumbuh dengan baik menjadi tinggi dan memiliki komponen fisik yang baik, sehingga lebih mudah diarahkan pada prestasi yang maksimal.
RIWAYAT HIDUP

Nama                              : KIKI PUSPITA SARI

Tempat Tgl.Lahir           :BANTAENG, 29 MARET 1990

Jenis Kelamin                :PEREMPUAN

Agama                            : ISLAM

No.Induk Mahasiswa    : 083204038

Program Studi/Strata     : PEND. KEPELATIHAN (S1)

Prestasi                          :



1.      Pernah Mengikuti PORDA XII di Palopo Kabupaten Luwu pada Tahun 2002
2.      Pernah Mengikuti INVITASI NASIONAL KELOMPOK UMUR di Jakarta pada Tahun 2003
3.      Pernah Mengikuti KEJURNAS RENANG di Senayan Jakarta pada Tahun 2004
4.      Pernah meraih Juara  III 100 meter gaya bebas KU senior pada kejuaraan renang antar perkumpulan se Indonesia timur di Pangkep pada tahun 2004
5.      Pernah meraih Juara III 100 meter gaya kupu-kupu KU senior pada kejuaraan Renang antar Perkumpulan se Indonesia Timur di Pangkep pada tahun 2004
6.      Pernah meraih Juara III 50 Meter gaya Bebas KU Senior pada Kejuaraan Renangantar Pekumpulan Se Indonesia Timur di Pangkep pada tahun 2004
7.      Pernah meraih Juara III 50 Meter gaya Kupu-kupu KU Senior  pada Kejuaraan renang antara Perkumpulan se Indonesia timur di Pangkep pada Tahun 2004
8.      Pernah meraih Juara II 200 Meter Gaya Bebas pada Kejuaraan Renang Antar Daerah plus Se Sulawesi dan Kalimantan di Kabupaten Soppeng pada tahun 2005
9.      Pernah meraih Juara III 100 Meter Gaya Kupu-kupu pada Kejuaraan Renang Antar Daerah plus Se Sulawesi dan Kalimantan di Kabupaten Soppeng pada tahun 2005
10.  Pernah meraih Juara III 100 Meter Gaya Bebas pada Kejuaraan Renang Antar Daerah plus Se Sulawesi dan Kalimantan di Kabupaten Soppeng pada tahun 2005
11.  Pernah meraih Juara II 50 Meter Gaya Kupu-kupu pada Kejuaraan Renang Antar Daerah plus Se Sulawesi dan Kalimantan di Kabupaten Soppeng pada tahun 2005
12.  Pernah Mengikuti Pekan Olahraga Pelajar Nasional (POPNAS) VIII di Medan,Sumatera Utara padaTahun 2005
13.  Pernah Mengikuti Matano Lake Open Water Swimming Championship 2006 7500 Meter di Sorowako Sulawesi Selatan pada Tahun 2006
14.  Pernah Meraih Juara II 50 meter gaya Kupu-kupu pada Pekan Olahraga Daerah (PORDA) XIII di Kabupaten Bone pada Tahun 2006
15.  Pernah Meraih Juara III 100 meter Gaya Kupu-kupu pada Pekan Olahraga Daerah (PORDA) di Kabupaten Bone pada Tahun 2006
16.  Pernah Meraih Juara III 50 Meter gaya Bebas pada Pekan Olahraga Daerah (PORDA) di Kabupaten Bone padaTahun 2006
17.  Pernah Mengikuti KEJURNAS RENANG KU 2007 PRAKUALIFIKASI PON XVII/2008 di Surabaya, Jawa Timur pada Tahun 2007
18.  Pernah Mengikuti POPNAS IX 2007 di Kalimantan TimurpadaTahun 2007
19.  Pernah Meraih juara II 50 Meter gaya Kupu-kupu pada PORDA I Sulawesi Barat di  Polewali Mandar padaTahun 2007
20.  Pernah Meraih Penghargaan Sebagai ATLET RENANG BERPRESTASI oleh BupatiBantaeng Di Kabupaten Bantaeng pada Tahun 2008
21.  Pernah Meraih Juara II 50 Meter Gaya Punggung pada Kejuaraan Renang Antar Mahasiswa se Indonesia (KRAMSI) di UNHAS Makassar pada Tahun 2009
22.  Pernah Meraih Juara II 50 Meter Gaya Kupu-Kupu pada Kejuaraan Renang Antar Mahasiswa se Indonesia (KRAMSI) di UNHAS Makassar pada Tahun 2009
23.  Pernah Mengikuti KEJUARAAN RENANG PIALA MENPORA SERI-II/PRAPORDA XIV 2010 di Makassar Sulawesi Selatan pada Tahun 2010
24.  Pernah Meraih Juara II 50 Meter Gaya Kupu-Kupu pada Kejuaraan Renang Antar Mahasiswa se Indonesia (KRAMSI) di UNHAS Makassar pada Tahun 2010
25.  Pernah Meraih Juara III Perenang Terbaik Putri pada Kejuaraan Renang Antar Mahasiswa se Indonesia (KRAMSI) di UNHAS Makassar pada Tahun 2010
26.  Pernah Meraih Juara III 50 Gaya Kupu-Kupupada PORDA XIV dan PORCADA II Sulawesi Selatan tahun 2010
27.  Pernah Mengikuti PRAPON POLO AIR di Bogor Jawa Barat pada Tahun 2011
28.  Pernah mengikuti Pelatihan Renang Kategori C Se Sulawesi-Selatan Pada tahun 2011.
29.  Pernah menjadi Juri Kedatangan Pada Lomba Renang Terbuka Losari-Lae-lae pada tahun 2011.
30.  Pelatih Renang di PR. Paotere Mattoanging Makassar 2011 hingga sekarang.